Review Film Para Perasuk Karya Magis Wregas Bhanuteja

Adegan Maudy Ayunda melompat tinggi saat ritual Pesta Sambetan di film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja.

Dalam lanskap sinema modern, mistisisme sering kali dipotret sebagai kekuatan gelap yang mengancam. Namun, melalui karya terbarunya berjudul Para Perasuk, sutradara Wregas Bhanuteja memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menjadikan hal-hal klenik sebagai musuh yang harus ditaklukkan, Wregas justru merangkulnya sebagai sebuah bentuk perlawanan dan wadah eskapisme. Di tangan dinginnya, dunia mistis yang abstrak bukan lagi sumber ketakutan, melainkan sebuah ruang bebas tanpa batas di mana imajinasi manusia sanggup meruntuhkan tembok ketidakmungkinan.

Sebenarnya, Para Perasuk bukanlah film Indonesia pertama yang mencoba mendekonstruksi sudut pandang ini. Tahun ini saja, kita melihat segmentasi serupa dalam The Period of Her melalui karya Linda Andriyani yang bertajuk Serixad Patah Hati. Namun, yang membuat Para Perasuk berdiri tegak dan menonjol adalah kolaborasi apik antara Wregas, Alicia Angelina, dan Defi Mahendra dalam menulis naskah. Mereka berhasil mengekspansi konsep tersebut menjadi sebuah dunia magical realism yang sangat unik dan penuh detail.

Mengenal Dunia Unik Desa Latas dan Ritual Pesta Sambetan

Cerita ini berlatar di Desa Latas, sebuah pemukiman yang memiliki tradisi unik bernama "Pesta Sambetan". Penggunaan istilah "pesta" di sini bukan tanpa alasan; ia menekankan betapa sakral dan signifikannya perayaan tersebut bagi masyarakat setempat. Dalam ritual ini, terdapat para "pelamun" orang-orang yang merelakan tubuh mereka menjadi wadah bagi roh-roh halus. Prosesi masuknya roh ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipandu secara estetis oleh iringan musik dari anggota sanggar sambetan yang dikenal dengan sebutan "perasuk".

Kita kemudian diperkenalkan dengan sosok Bayu (Angga Yunanda). Dengan selompret kesayangannya, Bayu menyimpan ambisi besar untuk menjadi perasuk andal di sanggar pusat. Sanggar tersebut dipimpin oleh Guru Asri, karakter yang diperankan dengan sangat karismatik oleh Anggun C. Sasmi. Suaranya yang berat dan penuh wibawa seolah-olah memiliki kekuatan untuk merobohkan sekat antara alam nyata dan alam gaib.

Motivasi Bayu bukan sekadar mengejar status sosial. Ada beban finansial yang menghimpit pundaknya. Ia berharap, jika berhasil lolos seleksi sanggar pusat, ia bisa menyelamatkan rumah keluarganya dari incaran Wanaria sebuah korporasi raksasa yang berniat menyulap Desa Latas menjadi kawasan perhotelan mewah. Konflik ini semakin tajam karena Bayu harus bersaing dengan sahabat karibnya, Pawit (Chicco Kurniawan), serta rivalnya yang tangguh, Ananto (Bryan Domani).

Baca Juga: Review Jujur Film Ghost in the Cell Terbaru Tahun Ini

Misteri Simbolisme Perasuk dan Unsur Lara yang Absurd

Dalam film ini, menjadi perasuk andal dianggap sebagai puncak pencerahan manusia. Ia adalah simbol harmonisasi antara jiwa manusia dengan alam semesta. Seorang perasuk yang hebat mampu mendatangkan kebahagiaan bagi para pelamun yang sedang dilanda kegundahan hidup. Menariknya, kebahagiaan yang ditawarkan sangat beragam, tergantung pada jenis roh yang dipanggil:

  • Roh Semut: Memberikan ilusi kemewahan bagi mereka yang kekurangan makanan.
  • Roh Bulus: Memberikan perlindungan dari rasa sakit fisik maupun batin.
  • Roh Kutu: Memberikan kekuatan melompat yang luar biasa, seolah membebaskan manusia dari belenggu gravitasi dan realitas.

Meskipun bagi kaum skeptis ritual ini sering dianggap sebagai bahan olok-olok klenik, bagi warga Desa Latas, roh-roh hewan yang terkesan remeh ini justru merupakan pelipur lara yang sangat ampuh. Visualisasi saat para pelamun memasuki kondisi trans dieksekusi dengan sangat kreatif oleh Wregas dan tim artistiknya. Bahkan, ada sentuhan humor absurd yang membuat alur film tetap terasa segar dan tidak membosankan, meski penonton berulang kali melihat momen kegagalan Bayu dalam menjaga konsentrasinya saat memimpin sambetan.

Makna Luka Laksmi serta Sentilan Sosial Para Perasuk

Di sisi lain, ada sosok Laksmi (Maudy Ayunda) yang langsung mencuri perhatian Bayu. Bagi Laksmi, sambetan adalah sebuah ruang aman (safe space). Ia menggunakan ritual ini sebagai mekanisme perlindungan dari trauma masa lalu dan kepenatan dunia nyata yang teramat sangat. Di sini, sambetan bukan lagi soal klenik yang mengerikan, melainkan sebuah bentuk penyembuhan.

Wregas dengan cerdik menyelipkan kritik sosial yang tajam dalam narasinya. Ia menyentil ketamakan pembangunan yang merusak ruang hidup masyarakat lokal, serta arogansi orang-orang kota yang terlalu mendewakan logika hingga merendahkan nilai-nilai spiritual yang ada di daerah.

Namun, film ini juga memberikan peringatan: eskapisme yang berlebihan bisa menjadi bumerang. Ambisi yang buta membuat Bayu kehilangan arah, sementara luka batin yang dalam mengubah pelarian Laksmi menjadi sebuah adiksi yang berbahaya. Angga Yunanda dan Maudy Ayunda berhasil membawakan emosi ini dengan sangat apik, menjembatani kegelisahan karakter mereka dengan realitas yang sering dialami oleh penonton.

Baca Juga: Review Film Pengabdi Setan Horor Terseram Indonesia

Review Para Perasuk Cahaya Harapan dalam Mistisisme

Meskipun menuju bagian akhir cerita arahnya terasa semakin kelam dan konklusinya mungkin terkesan sedikit naif bagi sebagian orang, hal ini tetap sejalan dengan gaya penyutradaraan Wregas Bhanuteja. Seperti dalam film Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, ia senang menyelipkan elemen dramatisasi tinggi di tengah presentasi yang artsy.

Pada akhirnya, Para Perasuk adalah sebuah undangan bagi kita untuk merasakan kebahagiaan dan menemukan secercah cahaya harapan. Film ini menjadi pengingat yang indah bahwa budaya mistis di Indonesia sangatlah kaya. Alih-alih terus-menerus digunakan untuk menakut-nakuti, mistisisme sebenarnya bisa diresapi sebagai cara manusia untuk menjalin keselarasan dengan semesta dan dirinya sendiri.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama