Menonton film horor seharusnya membuat bulu kuduk berdiri, namun pengalaman menyaksikan Review Film Sajen justru meninggalkan kesan yang berbeda. Film ini merupakan momen comeback bagi sutradara senior Hanny R. Saputra setelah tiga tahun jeda dari layar lebar. Sayangnya, bukannya disambut dengan rasa ngeri, sepertiga akhir film ini malah memancing tawa riuh dari para penonton di bioskop.
Ada sebuah celetukan menarik dari penonton saat klimaks film berlangsung: "Ini editornya nggak ketawa apa pas motong adegan ini?" Pertanyaan ini rasanya cukup mewakili perasaan mayoritas orang yang mengharapkan teror mencekam namun justru disuguhi kejanggalan teknis.
Sinopsis Sajen dan Rahasia Gelap SMA Pelita Bangsa
Sebenarnya, naskah yang ditulis oleh Haqi Achmad ini memiliki pondasi yang kuat. Sajen mencoba mengangkat isu sosial yang sangat relevan: bullying atau perundungan di lingkungan sekolah. Kita dibawa ke SMA Pelita Bangsa, sebuah sekolah elit yang tampak sempurna namun menyimpan rahasia kelam di balik tradisi sesajennya.
Pihak sekolah seolah "melegalkan" ritual pemberian sajen di titik-titik tempat siswa tewas bunuh diri akibat depresi. Uniknya, sekolah semewah itu digambarkan sangat minim staf. Salah satu yang mencolok adalah karakter Ratu (Rachel Amanda), seorang pustakawan yang perannya terasa kurang dieksplorasi lebih dalam.
Akting Amanda Manopo Sebagai Alanda
Pusat cerita ada pada sosok Alanda (Amanda Manopo), siswi pintar yang berani melawan para perundung seperti Bianca (Steffi Zamora) dan Davi (Jeff Smith). Harus diakui, performa Amanda Manopo di paruh awal film cukup memukau. Ia berhasil menyalurkan rasa sakit dan frustrasi korban bullying secara emosional.
Pada titik ini, Sajen terasa seperti drama thriller yang menjanjikan pesan moral kuat tentang ketidakpedulian institusi pendidikan terhadap kesehatan mental siswa.
Momen Perubahan Film Sajen dari Horor ke Komedi
Masalah mulai muncul ketika Alanda memutuskan mengakhiri hidupnya dan kembali sebagai arwah penasaran. Ironisnya, saat elemen horor yang ditunggu-tunggu muncul, kualitas film justru merosot karena beberapa alasan teknis:
- Teknis Editing: Transisi antar adegan terasa patah dan kurang mulus, sebuah hal yang cukup mengejutkan mengingat film ini diproduksi oleh Starvision.
- Eksekusi Jump Scare: Meskipun musik latar dari Andhika Triyadi sudah berusaha membangun suasana mencekam dengan instrumen tradisional, timing jump scare-nya seringkali tidak tepat sasaran.
- Logika Karakter: Ada adegan di mana hantu Alanda meniru gaya Sadako, namun justru direspon secara kocak oleh karakter lain dengan lemparan kotak pensil. Sebuah reaksi yang lebih cocok untuk film parodi.
Klimaks yang Kurang "Menggigit"
Puncak dari segala keanehan ini ada pada adegan prom night. Alih-alih mencekam seperti film Carrie, para siswa di SMA Pelita Bangsa tampaknya memiliki nyali baja. Saat hantu muncul dengan wajah hancur, mereka hanya berdiri menonton seolah sedang menyaksikan kejadian biasa saja. Tidak ada kepanikan masal yang realistis, bahkan karakter utama tetap terlihat menjaga imej "gantengnya" meski sedang terancam.
Baca Juga: Review Film Para Perasuk Karya Magis Wregas Bhanuteja
Apakah Film Sajen Layak Masuk Daftar Tontonan Kamu
Secara keseluruhan, Review Film Sajen menyimpulkan bahwa film ini memiliki niat baik untuk mengkritik fenomena perundungan, namun terjebak dalam eksekusi horor klise dan masalah teknis pasca-produksi.
Jika Anda mencari pesan moral tentang bahaya bullying, babak pertama film ini masih sangat layak disimak. Namun, jika Anda mengharapkan horor murni yang membuat merinding, bersiaplah untuk lebih banyak tertawa daripada berteriak ngeri.
Posting Komentar